Selasa, 29 November 2011

Muhadjir Kebakaran Jenggot

Terkait Suap Pemekeran Sofifi
Laporan : A.R.Tomawonge 
 
Muhadjir Albaar
SOFIFI- Meski tidak disebutkan siapa oknum pejabat Pemerintah Provinsi Maluku Utara (Malut) yang memberikan uang ratusan juta kepada salah satu anggota Dekot Tikep sebagaimana pengakuan Om Sidik, salah satu warga Kelurahan Sofifi yang aktif dalam setiap demonstrasi mendesak Sofifi menjadi Daerah Otonom Baru (DOB). Namun sepertinya pengakuan itu mengganggu ketenangan Sekertaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Muhadjir Albaar.
Kepada sejumlah wartawan seusai Paripurna Persetujuan Realisasi Anggaran Pemerintah Provinsi Maluku Utara tahun 2010 di Kantor Deprov Malut kemarin, Muhadjir menanyakan siapa wartawan koran ini yang menulis berita tentang pengakuan adanya upaya suap yang diduga melibatkan pejabat  pemprov Malut untuk memuluskan kepentingan paripurna persetujuan pemekaran Sofifi menjadi DOB di Dekot Tikep beberapa waktu lalu.
“ Pejabat Pemprov, Pejabat Pemprov siapa?,” tanya Muhadjir dengan nada agak tinggi kepada wartawan koran ini.
Saat disinggung mengenai pengakuan Om Sidik itu, Muhadjir berkilah, dia lantas menanyakan untuk apa ada pejabat pemprov Malut memberikan uang kepada Om Sidik.
“ Memangnya sidik itu siapa trus ada pejabat kasih uang,” ketusnya.
Sirajudin A.Kadir salah satu pengurus teras Aliansi Masyarakat Oba Bersatu (AMOB) kepada Radar Halmahera kemarin mengatakan, sangat meyesali pengakuan yang disampaikan Om Sidik terkait adanya suap dalam mendorong Sofifi menjadi DOB. Pengakuan tersebut menurut dia adalah sikap yang tidak mendasar bahkan terkesan konspiratif untuk mencedrai citera pejabat teras yang dimaksud sekaligus mencederai institusi AMOB.
“ Karena fakta yang disebut oleh Om Sidik itu terbalik. Kalaupun ada Suap, kenapa sikap DPRD Dapil III di Paripurna pembahasan malah menolak. Itu tadi yang disampaikan bahwa DPRD melakukan votting di paripurna itu tidak benar, karena DPRD tidak melakukan voting, apalgi disebutkan ARM mengembalikan uang karena tidak memenangkan voting itu keliru. Keputusan kemarin tidak melalui voting. Kita sesalkan sikap pak sidik dan teman-teman ditengah dinamika orang sofifi yang mendambakan pemekaran kok ada konpirasi kecil-kecil yang mencederai semangat perjuangan itu,” katanya.
Selain itu, pria yang juga Sekertaris KNPI Kota Tidore Kepulauan ini mengajak agar seluruh pengurus AMOB tidak perlu gentar atas pemberitaan apapun. AMOB menurut dia tetap akan mengawal semangat pemekaran Sofifi hingga tujuan pemekaran tercapai. Pada kesempatan itu juga, dia  menyampaikan agar ARM dan Jafar Alkatiri yang juga disebut namanya dalam pemberitaan dapat memberikan komentar terkait dengan pemberitaan itu. Pasalnya, AMOB menurut dia akan tetap berjuang untuk mendapatkan hak pemekaran itu.
“ kami meminta kepada redaksi radar agar supaya dalam menjalankan independensi media tapi harus mempertimbangkan etika pemberitaan agar AMOB dikonfirmasi sebelum berita itu dirilis agar kita jangan dirugikan dalam pemberitaan. Berita yang dirili oleh Om Sidik dan teman-teman ini kesannya sengaja untuk membunuh citera AMOB dan pejabat teras Pemprov Malut. jika memang ini pembunuhan karakter maka sebaiknya mereka berpikir seribu kali. Kita menggap hanya ini bergening kepentingan untuk mendapat posisi dalam perjuangan pemekaran. Tolong berpikir yang lebih cerdas, ini kepentingan masyarakat oba, jangan karena sikap politik dan kepentingan semata kemudian mencederai gerakan pemekaran,” tandasnya.
Sebelumnya, pengakuan Om Sidik ini bermula saat wartawan koran ini menelusuri adanya informasi terkait uang ‘pengamanan’ yang di pegang oleh oknum anggota Dekot Tikep dapil III berinisial ARM. Sayangnya, dalam paripurna persetujuan itu, Dekot Tikep menolak usulan Sofifi menjadi DOB. Terkait dengan informasi itu, ARM yang dihubungi kembali mempertanyakan asal usul informasi tersebut. Namun setelah disampaikan jika informasi tersebut diperoleh dari adanya sejumlah selebaran yang dibuang disejumlah titik di Kota Sofifi, bahkan telah hangat dibicarakan di tengah masyarakat Sofifi dan sempat mencuat diluar forum Rapimda Partai Golkar beberapa waktu lalu. ARM tidak lagi menjawab konfirmasi koran ini.
Sementara Om Sidik sendiri saat ditemui mengungkapkan, sepengetahuan dirinya, uang senilai Rp. 100 juta tersebut rencannya dipergunakan untuk memuluskan Paripurna persetujuan Sofifi menjadi DOB di Dekot Tikep, sayangnya, hasil akhir Paripurna tersebut, dekot tikep berkesimpulan menolak Sofifi menjadi DOB sehingga uang tersebut disimpan oleh ARM.
Uang senilai Rp. 100 juta itu menurut dia, saat berada ditangan ARM, telah terpakai sebanyak Rp. 20 juta. Dia mengaku, sebanyak Rp. 80 juta yang tersisah telah diambil olehnya, dan uang tersebut kini tersimpan dirumahnya. Alasan dirinya mengambil sisa uang tersebut karena merasa sudah sering dibohongi, termasuk selalu ada janji akan memboyongnya ke Jakarta dalam kepentingan menjadikan Sofifi sebagai DOB. Sayangnya, setelah berapa kali perjalanan ke Jakarta, dirinya tidak pernah dilibatkan.
“ karena dorang putar bale makanya saya tahan itu doidelapan puluh juta di rumah, bahkan saya juga pernah meminta agar mereka datang ambil uang di rumah, tapi sampai saat ini tidak ada yang datang untuk ambil uang itu,” ungkapnya.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar