Laporan : A.R.Tomawonge
![]() |
| Muhadjir Albaar |
SOFIFI- Meski tidak disebutkan siapa oknum pejabat
Pemerintah Provinsi Maluku Utara (Malut) yang memberikan uang ratusan juta
kepada salah satu anggota Dekot Tikep sebagaimana pengakuan Om Sidik, salah
satu warga Kelurahan Sofifi yang aktif dalam setiap demonstrasi mendesak Sofifi
menjadi Daerah Otonom Baru (DOB). Namun sepertinya pengakuan itu mengganggu
ketenangan Sekertaris Daerah Provinsi Maluku Utara, Muhadjir Albaar.
Kepada sejumlah wartawan seusai Paripurna Persetujuan
Realisasi Anggaran Pemerintah Provinsi Maluku Utara tahun 2010 di Kantor Deprov
Malut kemarin, Muhadjir menanyakan siapa wartawan koran ini yang menulis berita
tentang pengakuan adanya upaya suap yang diduga melibatkan pejabat pemprov Malut untuk memuluskan kepentingan
paripurna persetujuan pemekaran Sofifi menjadi DOB di Dekot Tikep beberapa
waktu lalu.
“ Pejabat Pemprov, Pejabat Pemprov siapa?,” tanya
Muhadjir dengan nada agak tinggi kepada wartawan koran ini.
Saat disinggung mengenai pengakuan Om Sidik itu,
Muhadjir berkilah, dia lantas menanyakan untuk apa ada pejabat pemprov Malut
memberikan uang kepada Om Sidik.
“ Memangnya sidik itu siapa trus ada pejabat kasih
uang,” ketusnya.
Sirajudin A.Kadir salah satu pengurus teras Aliansi
Masyarakat Oba Bersatu (AMOB) kepada Radar Halmahera kemarin mengatakan, sangat
meyesali pengakuan yang disampaikan Om Sidik terkait adanya suap dalam
mendorong Sofifi menjadi DOB. Pengakuan tersebut menurut dia adalah sikap yang
tidak mendasar bahkan terkesan konspiratif untuk mencedrai citera pejabat teras
yang dimaksud sekaligus mencederai institusi AMOB.
“ Karena fakta yang disebut oleh Om Sidik itu terbalik.
Kalaupun ada Suap, kenapa sikap DPRD Dapil III di Paripurna pembahasan malah
menolak. Itu tadi yang disampaikan bahwa DPRD melakukan votting di paripurna
itu tidak benar, karena DPRD tidak melakukan voting, apalgi disebutkan ARM mengembalikan
uang karena tidak memenangkan voting itu keliru. Keputusan kemarin tidak
melalui voting. Kita sesalkan sikap pak sidik dan teman-teman ditengah dinamika
orang sofifi yang mendambakan pemekaran kok ada konpirasi kecil-kecil yang
mencederai semangat perjuangan itu,” katanya.
Selain itu, pria yang juga Sekertaris KNPI Kota Tidore
Kepulauan ini mengajak agar seluruh pengurus AMOB tidak perlu gentar atas
pemberitaan apapun. AMOB menurut dia tetap akan mengawal semangat pemekaran
Sofifi hingga tujuan pemekaran tercapai. Pada kesempatan itu juga, dia menyampaikan agar ARM dan Jafar Alkatiri yang
juga disebut namanya dalam pemberitaan dapat memberikan komentar terkait dengan
pemberitaan itu. Pasalnya, AMOB menurut dia akan tetap berjuang untuk
mendapatkan hak pemekaran itu.
“ kami meminta kepada redaksi radar agar supaya dalam
menjalankan independensi media tapi harus mempertimbangkan etika pemberitaan
agar AMOB dikonfirmasi sebelum berita itu dirilis agar kita jangan dirugikan dalam
pemberitaan. Berita yang dirili oleh Om Sidik dan teman-teman ini kesannya
sengaja untuk membunuh citera AMOB dan pejabat teras Pemprov Malut. jika memang
ini pembunuhan karakter maka sebaiknya mereka berpikir seribu kali. Kita
menggap hanya ini bergening kepentingan untuk mendapat posisi dalam perjuangan
pemekaran. Tolong berpikir yang lebih cerdas, ini kepentingan masyarakat oba,
jangan karena sikap politik dan kepentingan semata kemudian mencederai gerakan
pemekaran,” tandasnya.
Sebelumnya, pengakuan Om Sidik ini bermula saat wartawan
koran ini menelusuri adanya informasi terkait uang ‘pengamanan’ yang di pegang
oleh oknum anggota Dekot Tikep dapil III berinisial ARM. Sayangnya, dalam
paripurna persetujuan itu, Dekot Tikep menolak usulan Sofifi menjadi DOB.
Terkait dengan informasi itu, ARM yang dihubungi kembali mempertanyakan asal
usul informasi tersebut. Namun setelah disampaikan jika informasi tersebut
diperoleh dari adanya sejumlah selebaran yang dibuang disejumlah titik di Kota
Sofifi, bahkan telah hangat dibicarakan di tengah masyarakat Sofifi dan sempat
mencuat diluar forum Rapimda Partai Golkar beberapa waktu lalu. ARM tidak lagi
menjawab konfirmasi koran ini.
Sementara Om Sidik sendiri saat ditemui mengungkapkan,
sepengetahuan dirinya, uang senilai Rp. 100 juta tersebut rencannya
dipergunakan untuk memuluskan Paripurna persetujuan Sofifi menjadi DOB di Dekot
Tikep, sayangnya, hasil akhir Paripurna tersebut, dekot tikep berkesimpulan
menolak Sofifi menjadi DOB sehingga uang tersebut disimpan oleh ARM.
Uang senilai Rp. 100 juta itu menurut dia, saat berada
ditangan ARM, telah terpakai sebanyak Rp. 20 juta. Dia mengaku, sebanyak Rp. 80
juta yang tersisah telah diambil olehnya, dan uang tersebut kini tersimpan
dirumahnya. Alasan dirinya mengambil sisa uang tersebut karena merasa sudah
sering dibohongi, termasuk selalu ada janji akan memboyongnya ke Jakarta dalam
kepentingan menjadikan Sofifi sebagai DOB. Sayangnya, setelah berapa kali
perjalanan ke Jakarta, dirinya tidak pernah dilibatkan.
“ karena dorang
putar bale makanya saya tahan itu doidelapan puluh juta di rumah, bahkan saya juga pernah meminta agar mereka datang
ambil uang di rumah, tapi sampai saat ini tidak ada yang datang untuk ambil
uang itu,” ungkapnya.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar